This Blog is under maintenance. please keep support our blog. thanks.

Labels

Tuesday, June 12, 2012

Laporan Praktikum Kimia Organik Amina dan Amida

BAB II

DASAR TEORI

Gugus penting lain yang akan dibahas dalam bab ini adalah Amin. Amin dapat dianggap sebagai turunan ammonia, dengan mengganti satu, dua, atau tiga hidrogen dari ammonia dengan gugus organik, seperti ammonia. Amin bersifat basa.

1.1 Amina

Ø Sifat-sifat Fisik Amin

Perhatikan bahwa metilamin (td -6,3) dan etilamin (td 16,6) berbentuk gas dengan titik didih lebih rendah dari suhu kamar. Walaupun kedua titik didih ini sedikit diatas alkana dengan bobot molekul sebanding, namun masih dibawah titik didih alkohol, dalam hal ini methanol dan etanol. Kesimpulan dari data ini ialah bahwa sekalipun ikatan hidrogen intermolekul N – H – … N sangat penting dan menaikkan titik didih Amin primer dan sekunder dibandingkan dengan alkana, tetapi ikatan hidrogen ini tidak sekuat ikatan intermolekul O – H – … O pada alkohol. Alasannya ialah karena nitrogen kurang elektronegatif dibanding oksigen.

Tabel sifat beberapa amin

Nama

Rumus

Td oC

Tetapan Disosiasi Kb

Pka

Ammonia

Anilin

N,N dimetilanilin

NH3

C6H5NH2

C6H5N(CH3)2

-33,4

184

193,5

2,0 . 10-5

4,2 . 10-10

11 . 10-10

-4,70

-9,38

-8,96

Ketiga golongan amin dapat membentuk ikatan hidrogen dengan gugus – OH dari air (yaitu O – H … N). Jadi kebanyakan amin sederhana yang mengandung lima sampai enam atom karbonlarut sempurna atau mempunyai kelarutan yang tinggi dalam air.(Fessenden,1999)

Ø Kebasaan Amin

Amin membentuk larutan basa (alkalis) dengan air. Keseimbangan yang menghasilkan ion hidroksida digambarkan berikut dengan contoh amin primer

R – NH + H – OH R – NH2 + OH-

Amina primer ion ion

Alkilamonium hidroksida

Alkil amin lebih basa dibanding ammonia. Perbedaannya terletak pada gugus metil dibandingkan atom hidrogen karena metil adalah gugus pemberi electron dibanding hidrogen, ia memantapkan muatan positif ion alkilamonium dan menggeser kesetimbangan tekanan. Pada umumnya gugus pemberi elektron menaikkan kebasaan amin, dan gugus penarik elektron , menurunkan kebasaannya.

Amin aromatic merupakan basa yang lebih lemah dibanding amin alifatik atau ammonia, misalnya aniline sejuta kali kurang basa dibanding sikloheksilamin. Alasan untuk perbedaan yang mencolok ini adalah delokalisasi resonansi dari pasangan electron bebas pada aniline, yang tidak terdapat pada sikloamin

Struktur resonansi aniline


Ø Reaksi Amin Dengan Asam Kuat : Garam – Garam Amin

Sebagaimana lazimnya basa, amin bereaksi dengan asam kuat membentuk garam alkilamonium, contoh reaksi amin primer dengan HCl.

Amin dapat dipisahkan dari senyawa nitro menurut diagram berikut :


Amin bereaksi membentuk garam, yang karena sifat ioniknya, larut dalam lapisan air.(Harold,1990)

Ø Reaksi Amin Dengan Tiruan Asam Dalam Pembuatan Amida

Ester, asam klorida dengan ammonia menghasilkan amin sederhana. Asilasi yang sama juga terjadi pada amin primer dan sekunder. Reaksi antara asilin dan asetat alhedrid :

Reaksi osilasi pada senyawa amida primer,silinder maupun terserier berlangsung melalui tahap – tahap mekanisme berikut :


Pada persamaan di atas basa NaOH diperlukan untuk mengikat sisa asam yang ada mekanisme reaksi – reaksi ini pada tahap pertama menyangkut serangan nukleofiliki oleh amin pada atom akrbon karbarul dari suatu turunan asam.

Ø Senyawa Diazonium Aromatik

Amin Aromatik primer bereaksi dengan asam nitit pada 00 Cmemeberikan ion asil diazonium,proses ini disebut Diazotisasi.


Larutan ion arildiazanium cukup mantap dapat disimpan pada 00C untuk beberapa jam,tetapi jika dipanaskan senyawa nitrogen menghasilkan fenol


Amina mengalami reaksi substitusi dengan alkil halida menghasilkan garam amina yang lebih banyak tersubstitusi. Amina mengalami reaksi asilasi dengan ester, anhidrid asam, atau halida asam menghasilkan amida.

Ø Reaksi dengan ester

O H O

CH3C OCH2CH3 + HNCH3 CH3C NHCH3 + CH3CH2OH

Ø Reaksi dengan asam anhidrid

O O H O O


CH3C OCCH3 + HNCH3 CH3C NHCH3 + HOCCH3

CH3NH2

+

CH3N+H3CL-

Reaksi dengan asam halida

O H O


CH3C CL + HNCH3 CH3C NHCH3 + HCL

CH3NH2

CH3NH3CL-

Amina juga bereaksi dengan asam nitrit (HONO)

§ R3N + H ONO R3N+H ONO

(amina tersier) (garam amina)

§ R2NH + HO NO R2N N═ O

(amina sekunder) (nitrosamin)

§ RNH2 + HONO dingin R N2+ -N2 R+ (tidak stabil)

(amina primer)

§ Ar NH2 + HONO dingin Ar N CL-

HCL

(amina primer) (garam aril diazonium)

2.2 Amida

Adalah turunan asam karboksilat yang paling tidak reaktif ,Karena itu golongan.senyawa ini banyak terdapat di alam. Amida terpenting adalah Protein.

* Sifat fisik

Amida sangat polar dan mudah membentuk ikatan hidrogen. Titik didihnya tinggi dibandingkan senyawa lain dengan bobot molekul yang sama namun substitusi aktif pada nitrogen cenderung menurunkan titik didih dan titik lelehnya akren menurunya kemampuan memberikan ikatan Hidrogen. Amida bereaksi dengan nukleofil,misalnya ia dapat dihidrolisis dengan air.

R–C–NH2 + H–OH RCOOH + NH3

Mekanisme dalam asam

O O H OH

CH3 C NH2 + H+ CH3 C NH2 CH3 C O H

NH2 H

O H O

CH3 C O H NH4 + CH3 C OH

NH3

Mekanisme suasana basa

O O O

CH3 C + NH2 + OH CH3 C NH2 CH3 C O- + NH3

O H

Asetamida primer dan skunder dapat bereaksi hidrogen dengan air

H H

O = C – N – H O = C – N - H

R R

(Fessenden, 1999) Titik didihnya lebih tinggi dibandingkan senyawa lain dengan bobot molekul yang sama. Namun substitusi aktif pada nitrogen cenderung menurunkan titik didih dan titik lelehnya karena menurunnya kemampuan membentuk ikatan hidrogen.Artinya amida yang mengandung gugusan N-H mempunyai titik leleh dan titik didih yang lebih tinggi daripada amida yang mengandung gugusan …NR2.

O O


H C NH2 H C N(CH3)2 CH3C NH2 CH3C N(CH3)2

(formamida) (N,N-dimetil formamida) (asetamida) (N,N-dimetil asetamida)

td : 210°C 153°C 222°C 165°C

tl : 2,5°C 60,5°C 81°C -20°C

Amida dapat mengalami dua macam reaksi yaitu reaksi hidrolisa dan reaksi reduksi.

· Hidrolisa

a) Dalam larutan asam

O O

RC N’R2 + H2O + H+ panaskan RC OH + H2N+R’2

b) Dalam larutan basa

O


RC NR’2 + -OH panaskan RCO- HNR’2

O

H

RCOH

(Solomon, 1983)

· Reduksi

Amida mengalami reduksi dengan lithium aluminium hidrida menghasilkan amina. Amina yang terbentuk tergantung pada nitrogen substituen dalam amida. Dalam semua reduksi ini, gugusan karbonil direduksi menjadi …CH2….

O


RCNH2 [ H ] RCH2NH2

1°amina

O


RCNHR’ [ H ] RCH2NHR’

2°amina

O


RCNR’2 [ H ] RCH2NR’2

3°amina

Amida lebih polar karena ikatan O-H lebih kuat dari N-H oleh karena keelektronegatifanya.(Solomon, 1983)

.

BAB III

METODOLOGI

3.1 Alat

Peraturan yang diperlukan adalah pembakar burner,tabung reaksi 6 buah,alat pemanas,kertas PH (PH 1 - 12) kertas lakmus, pipet posteur, kaca arloji.

3.2 Bahan

Bahan – Bahan yang diperlukan adalah air ammonia,trietil ammonia,arilin,N,N – dimetil arilin,asetameda,larutan NaOH,larutan Hcl,larutan asam sulfat.

3.3 Cara Kerja

a Aroma amina dan amida

Dimasukan kedalam tabung yang sudah belabel sebanyak 5 tetes amina atau amilon lalu aromanya dihirup dan dicatat aroma masing – masing.

b Kelarutan dalam air

Ditambahkan 2 ml air suling ke dalam setiap tabung reaksi dari percobaan (a) lalu ditutup,dikocok hingga larut tercampur sempurna diamati dan catat amina dan amida mana sajakah yang larut dan yang tidak larut dalam air.

c Uji Ph amina dan amida

Diambil sebatang pengaduk kaca,dicelupkan kedalam laurtan amina dan amida yang akan diuji ,lalu ditempelkan ujung batang pengaduk yang terbatasi asam ke kertas Ph (digunakan kertas Ph 1 - 12) dan dibaca berpa Ph masing – masing amina dan amida.

d Uji aroma dan kelarutan dalam asam

Ditambahkan sebanyak 2ml larutqan Hcl 6M ke dalam larutan dari percobaan (c) tutup tabung reaksi dan kocok sampai ;arutan bercampur secara sempurna,diamati dan dicatat aroma dan kelarutanya dalam air,dibandingkan dengan percobaan (b).

e Kelarutan dalam metilen klorida

Diambil tabung yang baru,diberi label seperti percobaan (a) diisi 5 tetes masing – masing mina dan amida bahan contoh,ditambahkan kedalamnya masing – masing 2ml metilen klorida,ditutup dan dikocok sampai larutan bercampur secara sempurna,diamati dan dicatat kelarutan masing – masing amina dan amida dalam metilen klorida.

f Reaksi trietilamin

Diambil kaca arloji,diteteskan masing – masing dari sisi yang berbeda,hati – hati sekali tanpa disentuh,setetes trietilamin dan setetes asam klorida pekat,diamati dan dicatat apa yang terjadi.

HIDROLISA ASETAMIDA

Dilarutkan sebanyak 0,5 gr asetamida di dalam pengas air mendidih selama lima menit.

Ditempelkan selembar kertas pH di mulut reaksi, diamati perubahan warna yang terjadi dan dicatat pH larutan. Dikeluarkan tabung reaksi pengas air lalu ditempatkan pada sebuah rak tabung, diamati dan dicatat aromanya.

Didinginkan tabung reaksi dengan merendamnya ke dalam air mengalir. Lalu ditambahkan dengan sangat hati-hati, setetes demi setetes, sambil dikocok, larutan NaOH 6M sampai larutan bersuasana basa (normalnya diperlukan lebih dari 7 ml basa) ditempelkan kertas pH di mulut tabung, dicatat pH sekarang, dan dicatat pula aromanya.

LAMPIRAN

SKEMA KERJA

Sifat Amina

1.

Amina dan Amida

Aroma Amina dan Amida

- diisikan 5 tetes ke tabung reaksi

- dihirup aromanya

-

Hasil

dicatat aroma masing-masing

2. Kelarutan Amina dan Amida


- ditambah 2 ml air suling dalam tiap tabung reaksi

- dikocok sampai tercampur sempurna

-

Hasil

diamati dan dicatat mana larutan yang larut dan yang tidak larut

3.

Larutan Amina dan Amida dari perc 2

Uji pH Amina dan Amida


- dicelupkan spatula ke dalam tabung reaksi

- spatula yang basah ditempelkan ke kertas pH

- dibaca pH masing-masing amina dan amida

Hasil


4.

Larutan Amina dan Amida dari perc 3

Uji Aroma dan Kelarutan Dalam Asam


- ditambah 2 ml HCl 6M ditutup dan dikocok

- diamati dan dicatat aroma dan kelarutannya dalam air dan dibandingkan dengan perc 2

Hasil


5.

5 tetes Amina dan Amida

Uji Kelarutan dalam Metilen Klorida


- ditambah 2 ml metilen klorida

- ditutup dan dikocok sampai sempurna

- diamati dan dicatat masing-masing kelarutan amina dan amida dalam metilen klorida

Hasil


6.

0,5 gr Asetamida

Reaksi Trietilen Dengan HCl Pekat


- dilarutkan dalam 5 ml H2SO4 6M

- dipanaskan 5 menit

- ditempelkan selembar kertas pH di mulut tabung reaksi diamati perubahan warna yang terjadi dan dicatat pHnya

- dikeluarkan dari penganas air, diamati dan dicatat aromanya

- didinginkan setetes demi setetes NaOH 6M sampai larutan bersuasana asam

- dicatat pH sekarang dan aromanya

Hasil


DAFTAR PUSTAKA

Fessenden, (1999) “Kimia Organik”, Edisi Ketiga, Jilid II, Erlangga, Jakarta

Hart, Harrold, (1990), “Kimia Organik”, Edisi Keenam, Erlangga, Jakarta

Solomon, Sally, (1983), “Introduction to General, Organic, and Biological Chemistry”, Edisi Pertama, McGraw Hill Book Company, MC. USA

Share:

0 comments:

Post a Comment

Request, Suggestions & Feedback

Request, Suggestions & Feedback

Translate

Blog Archive